
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Seakan Nisan Ikut Memanggil: Semarak Ziarah Menjelang Ramadan 1446 H ( Ayo Ziarah ….” Gerakan Edukasi Ziarah Maqam bagi milenial)
Oleh : Tuan M. Yoserizal Saragih
Dipenghujung bulan Syaban, suasana maqam berubah. Yang biasanya sunyi kini dipenuhi langkah-langkah para peziarah. Lantunan ayat suci bergema di antara nisan-nisan yang berdiri bisu. Seakan maqam pun ikut menyambut Ramadan, bersama mereka yang datang dengan doa dan harapan.
Angin sore berembus pelan, membawa aroma bunga segar yang ditaburkan di atas pusara. Nama-nama yang terukir di batu nisan kembali disebut dalam doa, menghadirkan kenangan yang tak pernah benar-benar hilang. Ziarah bukan sekadar pertemuan antara yang hidup dan yang telah pergi, tetapi juga pengingat bahwa waktu terus berjalan, membawa kita menuju tempat yang sama.
Terkadang, saking lamanya kita tidak berziarah, kita malah lupa di mana letak maqam yang kita tuju. Bahkan, ada kalanya jejaknya sudah tidak terlihat lagi.
Ziarah Kubur : Cermin Kesadaran Ruhani dan Akhirat
Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan perjalanan ruhani yang mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Rasulullah ﷺ bersabda :
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ فَزُورُوهَا، فَإِنَّهَا تُذ الآخِرَةَ
”Aku dahulu pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah, karena itu dapat mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Muslim, no. 977)
Ziarah menjadi pengingat akan kefanaan hidup. Mereka yang kini beristirahat di bawah tanah dahulu pernah menjalani kehidupan seperti kita menyambut Ramadan, menahan lapar dan dahaga, serta mengisi malam dengan doa. Kini, mereka hanya menunggu kiriman doa dari anak-anak, keluarga, dan sahabat yang masih diberi kesempatan.
Namun, seberapa sering kita mengingat mereka? Seberapa sering kita mendoakan mereka yang telah pergi mendahului? Hari ini, kita menaburkan bunga di atas pusara mereka, tetapi esok, mungkin kita yang akan berharap ada tangan yang menaburkan bunga di atas makam kita.
Pandangan Ulama Muktabar tentang Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan
- Imam Al-Nawawi : Ziarah Sebagai Sarana Mengingat Akhirat
Imam Al-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan bahwa ziarah kubur memiliki tujuan utama untuk mengingat kematian, memperbarui kesadaran akan akhirat, dan mendoakan kebaikan bagi yang telah wafat.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani : Ziarah Menjelang Ramadan Dianjurkan
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa kebiasaan berziarah menjelang Ramadan memiliki keutamaan tersendiri karena umat Islam akan memasuki bulan penuh rahmat dan pengampunan.
- Imam Al-Ghazali : Ziarah Sebagai Pelajaran Spiritual
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa ziarah kubur dapat menjadi muraqabah (introspeksi diri). Saat melihat nisan-nisan, seseorang akan menyadari bahwa hidup adalah perjalanan singkat yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
- Syaikh Ibnu Taimiyah : Membaca Doa di Kuburan Adalah Amalan Baik
Syaikh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa menegaskan bahwa ziarah kubur yang dilakukan dengan doa dan mengingat kematian adalah sunnah yang baik, selama tidak disertai perbuatan bid’ah seperti meminta pertolongan langsung kepada penghuni kubur.
- Imam As-Suyuthi : Keutamaan Mendoakan Leluhur di Awal Ramadan
Imam As-Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawi menyebutkan bahwa para ulama sepakat akan keutamaan mendoakan orang tua dan leluhur yang telah wafat, terutama menjelang bulan suci Ramadan.

Ket Foto : Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom
Wadek 3 FIS UIN Sumut,
Ahmad Yunus Mokoginta Harahap, MA
Dosen FITK UIN Sumut
Penjaga Maqam : Sang Perawat Tanah Peristirahatan
Di tengah kesyahduan ziarah, ada sosok-sosok yang sering terlupakan para penjaga maqam. Dengan tangan kasar dan penuh peluh, mereka menyapu dedaunan yang gugur, merapikan batu nisan yang mulai tertutup lumut, serta memastikan setiap peziarah bisa datang dengan nyaman dan khusyuk.
Mereka bukan sekadar penjaga tanah, tetapi penjaga ketenangan. Mereka memastikan bahwa maqam tetap terawat dan layak dikunjungi. Tidakkah sepatutnya mereka juga mendapat doa dan perhatian dari kita? Sedikit sedekah atau ucapan terima kasih bisa menjadi wujud penghormatan atas tugas mereka yang sunyi, namun penuh makna.
Ziarah dan Perputaran Ekonomi Umat
Di sekitar maqam, kehidupan tetap berdenyut. Para pedagang bunga menyusun kelopak demi kelopak dengan teliti, penjual buku Yasin menawarkan doa-doa yang akan dikirimkan ke alam barzakh, sementara para penjaga makam menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Tanpa disadari, ziarah menjelang Ramadan juga menghidupkan perekonomian. Rezeki mengalir dari tangan ke tangan, menjadi berkah bagi mereka yang bekerja dengan ikhlas. Sebuah ekosistem kecil tumbuh di sekitar tradisi ini bukti bahwa silaturahmi bukan hanya memperpanjang umur, tetapi juga menggerakkan roda kehidupan.
Ramadan : Kesempatan Sebelum Kita yang Diziarahi
Saat matahari kian condong, gema azan magrib terdengar dari kejauhan. Para peziarah perlahan meninggalkan maqam, membawa serta harapan dan renungan. Ramadan yang akan tiba bukan sekadar pergantian bulan, tetapi kesempatan baru untuk memperbaiki diri.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
”Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)
Hari ini, kita yang menziarahi. Esok, mungkin kita yang akan diziarahi. Ramadan datang sebagai kesempatan—sebelum nama kita terukir di batu nisan, sebelum doa-doa hanya bisa dikirimkan kepada kita, sebelum tangisan bukan lagi milik kita yang hidup, melainkan mereka yang kita tinggalkan.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
”Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.” (QS. Al-Baqarah : 156)

Ket Foto : Wakil Dekan 3 FIS Tuan M Yoserizal Saragih, M.I.Kom bersama Muhammad Fauzan-HMI Komisariat FDK Semester 2, Tris Supriadi – HMI komisariat FDK UIN Sumut Semester 8, Muhammad Rico Alumni Ponpes Baitussalam (FITK), Muhammad Inggit Prabowo Kammi FITK UIN Sumut, Mu’arya Sinaga (FEBI UIN Sumut)
Muhammad Khairuddin Harahap (ketua KPUM FSH periode 2024-2025)
Selamat menyambut Ramadan 1446 H. Semoga kita termasuk dalam golongan muttaqin yang mengingat sebelum dilupakan, yang menangis sebelum terlambat, dan yang bersiap sebelum dipanggil ke hadrat rabbi kembali.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ